Tiba-tiba, awan hitam datang dari arah barat. Angin kencang mengguncang spanduk dan baliho iklan di tepi jalan.
Oleh Djoko Subinarto
28 Jan 2026 15:29 WIB
MENTARI baru saja menampakkan parasnya dari balik Gunung Manglayang. Sinar jingganya menyusup ke sela-sela atap rumah. Jalanan terlihat lengang. Bandung masih belum terjaga sepenuhnya dari lelap tidurnya.
Di sebuah rumah di daerah Antapani, seorang ibu tampak gelisah mencari kunci mobil. Ia sibuk membongkar sejumlah laci, juga tasnya yang ia pakai kemarin.
”Hari ini kita naik mobil semua!” serunya pada suami dan dua anaknya yang masih menguap, menahan kantuk. Tidak ada pertanyaan. Semua patuh. Mereka merasa inilah hari istimewa untuk keluarga.
Sementara itu, di sudut Jalan Bukit Dago Utara, seorang manajer start-up yang biasanya berangkat pukul delapan kini sudah duduk manis di jok kulit BMW-nya, persis pukul enam pagi. Dia menyalakan mesin, dan melihat spion dengan senyum percaya diri.
”Yes! Hari ini aku pasti lolos dari macet,” gumamnya. Wajahnya memancarkan aura pemenang.
Di Cicadas, seorang tukang bubur yang biasanya berkeliling pakai motor bebek melihat dengan bangga mobil bak tuanya, Honda TN5, warna merah delima. Hari ini, dia ingin merasakan bagaimana rasanya berjualan pakai mobil. Pikirnya, biar lebih ”naik kelas”. Tapi, hatinya sedikit bimbang, apakah pelanggan nanti akan lebih menghargai mobilnya atau rasa buburnya. Istrinya cuma mesem, setengah bangga, setengah khawatir.
Di Buahbatu, seorang pensiunan sepuh membuka selimut abu-abu yang menutupi mobil klasiknya. Dia menekan tombol starter. Mesinnya batuk-batuk memenuhi seluruh halaman rumahnya.
”Hari ini aku akan mengaspal pusat kota lagi,” ucapnya pada dirinya sendiri. Salah seorang tetangganya melirik, penasaran sekaligus kagum.
Dari Ciumbuleuit sampai Cibaduyut, dari Cimindi hingga Cibiru, garasi-garasi terbuka nyaris bersamaan. Suara mesin mobil berbagai merek dan tipe menggema serentak. Bau knalpot memenuhi udara pagi Kota Bandung, yang dulu berjuluk Parijs van Java itu. Tak ada satu pun yang mengira mereka sedang membuat bom waktu. Tidak ada yang sadar bahwa di hampir semua rumah, orang-orang terbesit pikiran yang sama: ”Kali ini aku bawa kendaraan sendiri.” Sebuah keinginan kecil yang terasa lumrah. Namun, bila dilakukan serempak, bakal berubah menjadi petaka.
Sebuah stasiun radio FM lokal, yang mengudara dari Jalan Westhoff, memutar lagu bertajuk Mobil Balap dari suara Naif. Lagu itu mengalun seolah mengejek warga Bandung yang mulai menyesaki jalan-jalan dengan kendaraan pribadi mereka.
Kala lagu usai, sang penyiar bersuara parau melemparkan lelucon. ”Insan muda, kalau semua orang Bandung keluar pakai mobil hari ini, mungkin kita bisa bikin rekaman musik live spesial dari klakson dan deru mesin! Wah, bakal seru, kayaknya.” Penyiar itu tertawa ringan, tidak menyadari bahwa apa yang disampaikannya itu bakal menjadi kenyataan.
Sementara itu, di kawasan Jalan Pasteur, realitas membuktikan candaan itu benar. Pasteur lumpuh total. Mobil dari arah tol dan dari arah kawasan Gunung Batu yang menuju ke kawasan Pasteur mengalami penumpukan. Para pengendara gelisah. Sebagian menyalakan hazard sebagai tanda menyerah. Wajah-wajah cemas mengintip dari balik kaca gelap. Mobil-mobil pribadi mengular ke segala arah, menyumbat setiap ruas yang biasa jadi jalur alternatif. Waze dan Google Maps serempak menyarankan rute yang sama dan malah menambah keruwetan.
Di Jalan Asia Afrika, persis di depan sebuah hotel, sebuah mobil pengantin berhias pita putih, dengan karangan bunga di kap depannya, tak bisa bergerak sedikit pun. Beberapa pejalan kaki memotret dengan ponselnya mobil pengantin yang terjebak macet itu. Mereka mengira ini sebuah adegan sinetron. Pengantin lelaki terlihat gelisah. Matanya bolak-balik melirik ke arloji berlapis emas putih yang jarumnya bergerak cepat. Sang ibu, yang berada di kursi belakang terlihat tegang. Di balik kegelisahan, mereka menyadari bahwa perencanaan yang matang pun bisa kalah oleh kerumunan serentak yang tak terduga.
Di kawasan Cihampelas, seorang mahasiswa kedokteran memandangi berulang kali lembar jadwal ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) di tangannya. Pelipisnya mengucurkan keringat. Ketika menyadari ia tak bakal sempat tiba di kampus tepat waktu untuk ujian OSCE, ia membuka pintu mobilnya, memilih berjalan kaki, dan membiarkan mobilnya di tengah lautan mobil lain. Setiap detik yang hilang terasa seperti ujian hidup yang lebih menakutkan daripada ujian OSCE. Ia merasa waktu dan harapannya tergerus oleh kepadatan jalan yang tak terduga, seolah kota sendiri menantangnya.
Dari atas langit Bandung, drone milik Dinas Perhubungan merekam suasana Kota Bandung yang terlihat seperti labirin abu-abu berkilau. Tiada ruang tersisa untuk bergerak. Lautan kendaraan terparkir dalam posisi tak beraturan, menutup trotoar, dan bahu jalan, hingga halaman rumah warga. Data di layar komputer pusat kendali lalu lintas Dinas Perhubungan menunjukkan kecepatan rata-rata kendaraan hanya 0,5 km/jam. Bandung berhenti total.
Perlahan, orang-orang keluar dari mobil mereka. Wajah-wajah bosan, cemas, dan kesal saling berpapasan. Suara pintu mobil dibanting, menciptakan irama dentuman yang tak harmonis. Udara Bandung dipenuhi kebingungan massal. Beberapa pemilik mobil menuntun anjing peliharaan mereka keluar dari mobil agar tidak kepanasan.
Di sisi lain, pedagang asongan mendadak kebanjiran pembeli. Mereka menembus sela-sela mobil, menawarkan kopi, roti, kacang asin, dan gorengan. Setiap lima langkah, ada saja orang yang memanggil. Dagangan mereka laris manis dalam waktu singkat. Bandung berubah jadi pasar berjalan. Kehidupan menemukan caranya bertahan di tengah stagnasi.
Di seputaran Braga, seniman jalanan tetap setia memainkan gitar dan harmonikanya. Namun, suaranya tenggelam di antara suara mesin mobil yang masih menyala. Penonton setianya hanyalah mobil-mobil yang tak berdaya. Ia tetap bernyanyi, seolah ini panggung paling megah sepanjang kariernya.
Di Balai Kota dan Gedung Sate, sejumlah pejabat menatap layar CCTV. Mereka tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi serentak. Ruangan rapat berubah jadi ruang panik, penuh teriakan dan telepon berdering. Peta Bandung di layar besar menunjukkan warna merah solid di semua jalur. Seorang pejabat hanya bisa berbisik, ”Gawat ini, Bandung jadi parkiran raksasa.”
Tak jauh dari Gedung Sate, di Jalan Diponegoro, dua mobil ambulans dengan sirene meraung-raung terjebak di antara mobil yang diam. Suara sirene hanya menjadi penanda keputusasaan. Tak ada yang bisa menepi, semua terjepit. Sopir ambulans menunduk, tangan mereka gemetaran memegang setir. Pasien merintih kesakitan. Di saat bersamaan, seorang ibu muda yang hendak melahirkan berteriak histeris di mobilnya, sebuah VW kodok. Suaminya menatap kaca depan yang dipenuhi deretan mobil tak bergerak. Tak ada harapan tiba di rumah sakit. Situasi mencekam.
Dua orang pengendara ojek daring, yang berada di dekat mobil ibu itu, menawarkan bantuan. Mereka berbagi tugas. Satu menelepon dokter. Satunya lagi mencarikan selimut. Seorang warga lewat menyerahkan air minum. Semua orang di sekitar mobil itu berubah menjadi tim medis lapangan dadakan.
Seorang sopir taksi berinisiatif membuka ponsel, dan mengetik ”cara menolong perempuan melahirkan di dalam mobil” di mesin pencari. Ketegangan merambati wajah semua orang. Dan dalam satu detik, Jalan Diponegoro berubah jadi ruang bersalin darurat.
Sementara itu, di Jalan LL RE Martadinata, seorang bocah berkulit putih dan berambut ikal turun dari mobil SUV. Dengan agak susah payah, ayahnya menurunkan sepeda roda tiga kecil dari bagasi. Dengan sepedanya, bocah itu lantas berputar-putar di antara mobil-mobil yang tak bergerak. Ia tertawa girang, seolah ia menemukan taman bermain terbesar di dunia. Kegirangannya seperti pengingat bahwa dalam kekacauan, ada kebahagiaan sederhana yang sebenarnya bisa kita nikmati. Orang-orang memperhatikannya—sedikit iri, sedikit tersenyum.
Waktu terus berjalan. Matahari kian tinggi. Panas menyengat atap mobil, menimbulkan gelombang udara yang mengaburkan pandangan. Keringat membasahi baju semua orang. Emosi mendidih di antara deretan kendaraan. Adapun Bandung mendidih dalam diam yang mencekam.
Tiba-tiba, awan hitam datang dari arah barat. Angin kencang mengguncang spanduk dan baliho iklan di tepi jalan. Rintik hujan menetes, kemudian deras tak terhindarkan. Air hujan merembes masuk ke sela jendela yang setengah terbuka.
Sungai-sungai kecil terbentuk di celah aspal jalanan Bandung. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Namun, tak ada ruang kosong. Trotoar penuh manusia. Jalan penuh mobil. Bandung seperti panggung kiamat mini.
Dari udara, sejumlah drone merekam kepanikan massal. Payung berwarna-warni, orang-orang menggendong bayi dan anak-anak, serta mobil-mobil yang tergenang air yang kian meninggi. Gambar itu viral di media sosial dalam hitungan menit. Tagar #BandungMacetTotal trending di semua platform media sosial. Jurnalis dari stasiun TV nasional berbondong datang meliput dan melakukan siaran langsung.
Orang-orang pun hanya bisa terdiam, tak tahu harus marah karena ditipu keadaan atau tertawa karena absurditas yang tak masuk akal.
Di tengah hiruk-pikuk itu, kabar mengejutkan berseliweran di berbagai WhatsApp group bahwa Bandung hari itu ternyata dijadikan lokasi syuting film bergenre apokaliptik. Pesawat drone yang merekam dari atas, konon, bukan milik pemerintah atau jurnalis, melainkan kru produksi film. Puncak keabsurdan terjadi saat sebuah helikopter melayang rendah dan menurunkan nasi bungkus untuk para ”pemeran massal” yang tak sengaja terjebak macet. Orang-orang pun hanya bisa terdiam, tak tahu harus marah karena ditipu keadaan atau tertawa karena absurditas yang tak masuk akal.
Pada titik ini, kota Bandung seperti menahan tawa getir kala melihat warganya terperangkap dalam naskah ganjil ciptaan mereka sendiri. Warga pun akhirnya menyadari bahwa ini bukan syuting film apokaliptik, melainkan mereka sendirilah yang tanpa sadar merancang drama paling konyol, kala orang-orang serempak memilih keluar rumah dengan kendaraan pribadi di hari dan waktu yang sama. Maka, Bandung pun resmi berubah menjadi parkiran raksasa, dan setiap orang menjadi saksi cerita yang bakal mereka kenang sepanjang usia mereka.***
Djoko Subinarto, penulis lepas dan blogger. Bisa disapa lewat IG @enambelaspas.
SUMBER
https://www.kompas.id/artikel/bandung-apokaliptik?open_from=Tagar_Page
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/01/27/2b88deb8efd1137bc4fb9af1f523d349-Cerpen_Bandung_Apokaliptik.jpg?format=webp)
0 Komentar